Senin, 04 Desember 2017

KISAH AKHIR ZAMANI #Bag.3

Tanda-tanda Alam Kemunculan Dajjal

Assalaamu 'alaikum ...
Sahabatsetia Gusti......
Pada KISAH  AKHIR ZAMAN bab 3 ini kita akan mengulas tentang tanda-tanda alam yang terjadi saat kedatangan dajjal nanti..
Tentu postingan ini masih berkaitan erat dengan bab sebelumnya karena pada artikel ini Penulis memang sengaja menukil hanya beberapa baris kalimat dari hadits tentang dajjal dan atau Jassasah yang pernah di posting sebelumnya
Dan kali ini kita akan fokus pada beberapa fenomena alam yang sangat menghawatirkan ketika disebut dalam hadits bahwa fenomena alam tersebut adalah bagian dari tanda-tanda keminculan/kedatangan Dajjal la'natullahi 'alayh..

Sosok Dajjal


عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ صَحِبْتُ ابْنَ صَائِدٍ إِلَى مَكَّةَ فَقَالَ لِي أَمَا قَدْ لَقِيتُ مِنْ النَّاسِ يَزْعُمُونَ أَنِّي الدَّجَّالُ أَلَسْتَ سَمِعْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّهُ لَا يُولَدُ لَهُ قَالَ قُلْتُ بَلَى قَالَ فَقَدْ وُلِدَ لِي أَوَلَيْسَ سَمِعْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا يَدْخُلُ الْمَدِينَةَ وَلَا مَكَّةَ قُلْتُ بَلَى قَالَ فَقَدْ وُلِدْتُ بِالْمَدِينَةِ وَهَذَا أَنَا أُرِيدُ مَكَّةَ قَالَ ثُمَّ قَالَ لِي فِي آخِرِ قَوْلِهِ أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَعْلَمُ مَوْلِدَهُ وَمَكَانَهُ وَأَيْنَ هُوَ قَالَ فَلَبَسَنِي

Dari Abu Said Al-Khudri RA, ia berkata: Aku menemani Ibnu Shaid pergi ke Mekah, ia berkata kepadaku: Aku telah bertemu dengan beberapa orang yang menganggap bahwa aku adalah seorang Dajjal. Apakah kamu pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya Dajjal itu tidak mempunyai anak. Aku jawab: Ya! Ia berkata lagi: Dan aku telah mempunyai anak. Bukankah kamu telah mendengar Rasulullah SAW bersabda: Dajjal itu tidak akan memasuki Madinah dan Mekah. Aku menjawab: Ya! Ia berkata lagi: Dan aku telah dilahirkan di Madinah dan sekarang aku sedang menuju ke Mekah. Kemudian di akhir pertanyaannya dia berkata kepadaku: Demi Allah, sesungguhnya aku tahu waktu kelahirannya, tempatnya dan di mana dia. Ia berkata: Ia telah mengaburkanku tentang perkara itu. (HR Muslim) Dalam hadits lain, Rasulullah menerangkan mengenai Dajjal ini yang artinya: “Sesungguhnya Al-Masih Ad-Dajjal seorang laki-laki pendek…” [HR. Ahmad 23144, Abu Dawud 4320]

Ciri-ciri Fisik Dajjal


Sebagaimana yang sudah disebutkan di atas, bahwasannya Dajjal adalah manusia yang sama seperti kita. Ia mempunyai rambut, mata, wajah, tangan, badan dan sebagainya persis seperti manusia biasa. Akan tetapi, ada beberapa hal yang lebih spesifik mengenai ciri-ciri makhluk ini. Berikut ini adalah ciri-ciri fisik Dajjal yang dikumpulkan dari beberapa hadits Nabi Muhammad SAW.

    Rambutnya keriting.
    Di keningnya terdapat tulisan “Ka Fa Ra” atau “Kaafir” dalam tulisan Arab.
    Mata kanannya buta dan menonjol. Sebagian orang menganggap bahwa Dajjal hanya memiliki satu bola mata saja, anggapan ini adalah keliru. Yang benar, Dajjal memiliki dua bola mata akan tetapi satunya buta.
    Kulit badannya berwarna kemerah-merahan.
    Badannya gemuk dan pendek. Dalam riwayat lain, tubuhnya gemuk dan besar.
    Dadanya bidang.
    Kakinya bengkok.
    Dajjal tidak bisa memiliki keturunan alias mandul.

Sumbernya adalah hadits-hadits berikut ini:

    “Tidak ada seorang Nabi pun kecuali telah memperingatkan ummatnya tentang Dajjal yang buta sebelah lagi pendusta. Ketahuilah bahwa Dajjal buta sebelah matanya sedangkan Allah tidaklah buta sebelah. Tertulis diantara kedua matanya; Kafir (yang mampu dibaca oleh setiap muslim).” [HR. Al-Bukhari 7131,7408, Muslim 2933]

    “Sesungguhnya Al-Masih Ad-Dajjal seorang laki-laki pendek, berkaki bengkok, keriting rambutnya, buta sebelah matanya, dan matanya kabur tidak menonjol dan tidak juga cekung, jika ia memperdayai kalian maka ketahuilah bahwa Tuhan kalian tidaklah buta sebelah.” [HR. Ahmad 23144, Abu Dawud 4320]

    Dari Abu Sa’id Al-Khudri, Rasulullah bersabda : “Dan tidaklah diutus seorang nabi yang diikuti  itu, kecuali untuk memperingatkan kaumnya terhadap Dajjal. Aku telah menerangkan ciri-cirinya bahwa ia cacat, sedangkan Tuhan kalian tidaklah cacat. Mata kanannya menonjol dan tidak dapat disembunyikan, seolah-olah dahak yang berada di dinding kapur, sedangkan mata kirinya seperti planet yang bulat.“

    Dalam hadits Anas, Rasulullah bersabda : “Dan diantara kedua matanya termaktub tulisan kafir“. Dan dalam satu riwayat disebutkan : “Kemudian beliau mengejanya -kaf fa’ ra’- yang dapat dibaca oleh setiap muslim“. Dan dalam satu riwayat lagi dari Hudzaifah, “Dapat dibaca oleh setiap orang mukmin, baik ia tahu tulis baca maupun tidak.“

    Dalam hadits Abu Hurairah, Rasulullah bersabda : “Adapun Al-Masih Si Pendusta itu adalah buta sebelah matanya, lebar dahinya, bidang dadanya bagian atas dan bengkok (kakinya).”
Sahabatsetia Gusti...
Dajjal merupakan sosok eskatologi Islam yang nantinya muncul di akhir zaman. Kehadirannya menjadi tanda bahwa dunia sudah memasuki akhir zaman dan tinggal menunggu waktu terjadi kiamat besar.
Keberadaan dan kemunculan makhluk bermata satu ini diimani oleh umat Islam. Namun tidak ada yang mengetahui pasti dimana keberadaannya kini, serta kapan Dajjal akan keluar dari persembunyiannya. Namun Nabi Muhammad SAW sudah mengabarkan tanda-tanda alam saat Dajjal akan muncul dan membuat kerusakan di bumi
Satu diantara tanda ini sudah mulai tampak. Ini menjadi peringatan bagi kaum mukmin untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan agar terhindar dari fitnahnya. Apa saja tanda alam tersebut? Berikut ulasannya.

1. Menyusutnya Danau Tiberias

Salah satu fenomena alam yang menandai kemunculan Dajjal adalah menyusutnya Danau Tiberias.  Secara geografis wilayahnya terletak di Palestina dan Suriah, namun saat ini sudah dikuasai oleh Israel. Sungai yang disebut juga dengan sungai Galilee ini kini digunakan oleh penduduk Israel untuk pertanian, perkebunan, air minum dan sanitasi.


Ironisnya, sungai ini debitnya sekarang kian menyusut. Hal ini disebabkan karena rendahnya curah hujan di wilayah tersebut, serta populasi warga Israel yang justru mengalami peningkatan. Hal ini tentu bukan menjadi bencana bagi warga Israel saja. Namun juga umat Islam, pasalnya dengan keringnya Danau Tiberias, menjadi tanda bahwa sosok yang tidak diinginkan akan segera muncul. Ya Dajjal laknatullah...

Hadist Riwayat Imam Muslim dari Fatimah binti Qais bahwa beliau radhiallahu 'anhu berkata bahwa seorang yang bernama Tamim ad-Dari mendatangi Nabi menceritakan tentang pertemuannya dengan Dajjal. Tamim berlayar selama 30 hari dan terdampar di sebuah pulau di arah timur matahari.

Di Pulau tersebut Tamim bertemu dengan sosok yang bernama Dajjal dan mempertanyakan perihal danau Tiberias.

“Beritakan kepadaku tentang danau Tiberias!’ Kami pun berkata, ‘Tentang apanya yang ingin engkau ketahui?’ Dia berkata, Apakah di sana ada airnya?’ Kami menjawab, ‘Danau itu banyak airnya, ‘Dia berkata, ‘Ketahuilah airnya tak lama lagi akan habis.” (Hadist Riwayat Imam Muslim)

2. Terjadi Kekeringan Selama Tiga Tahun

Sebelum kemunculan Dajjal, peristiwa alam yang akan terjadi adalah kekeringan panjang.  Tiga tahun sebelum kemunculannya, Allah SWT akan menahan air dari langit-Nya. Kondisi ini terjadi secara bertahap. Dimana pada tahun pertama, Allah menahan sepertiga dari air hujannya, pada tahun kedua, langit akan menahan dua pertiga dari air hujannya, dan tahun ketiga, langit akan menahan air hujan semuanya. Tidak terbayangkan kondisi pada saat itu, mengingat air merupakan sumber kehidupan makhluk hidup yang ada di bumi.


Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tiga tahun sebelum keluarnya Ad-Dajjal, langit akan menahan sepertiga dari air hujannya, dan bumi menahan sepertiga dari tumbuh-tumbuhannya. Pada tahun yang kedua, langit akan menahan dua pertiga dari air hujannya dan bumi akan menahan dua pertiga dari tumbuh-tumbuhannya. Pada tahun yang ketiga langit akan menahan air hujan semuanya dan bumi juga akan menahan tumbuh-tumbuhan semuanya.” (HR Ahmad – dengan sanad laa ba’sa bihi)

Tahap-tahap yang terjadi ini memperlihatkan bagaimana skema perubahan iklim yang terjadi di bumi. Namun, jika manusia biasa menyebutnya perubahan iklim, maka sebenarnya itu adalah kuasa Allah SWT yang menahan rezeki berupa air. 

3.Kebun Kurma Baisan Tidak Berbuah, 





Kebun Kurma Baisan – Sebagai umat muslim, mungkin sebagian dari Anda belum mengetahui mengenai kebun kurma di wilayah Baisan ini kan?
Di zaman dulu, Baisan merupakan sebuah wilayah yang sangat subur dengan ditumbuhi pohon kurma yang sangat banyak dan berbuah sangat lebat.
Baisan ini berada di Palestina, tepatnya di Al-Ghaur utara yang berdekatan dengan sungai Jalut. Kota ini memainkan peran yang penting dalam sejarah, berdasar letak geografisnya yang berada di persimpangan lembah sungai, yaitu lembah sungai Jordan dan lembah Jezreel.
Di dunia modern, kota ini juga memiliki peranan penting karena bertindak sebagai pusat kegiatan regional bagi beberapa desa di sekitarnya Beit She’an Valley Regional Council.
Oke, sekarang coba Anda searching Beit She’an di mesin pencari google, maka Anda akan terkejut ketika melihat gambar-gambar yang memperlihatkan bahwa wilayah Baisan sudah tidak banyak di tumbuhi pohon kurma lagi dan pohon-pohon yang masih hidup tidak banyak berbuah.


Memangnya kenapa jika pohon kurma di Baisan sudah tidak lagi berbuah?

Dalam sebuah hadist, diceritakan bahwanya salah satu tanda dekatnya hari kiamat adalah jika pohon kurma Baisan sudah tidak berbuah.
Didalam sebuah riwayat yang disampaikan Imam Ahmad, disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah mengakhirkan shalat isya pada suatu malam Lalu Rasulullah SAW keluar dan bersaba,"Aku terhalangi oleh kisah yang diceriakan oleh Tamim ad Dari tentang seorang laki-laki di sebuah pulau di tengah laut". Salah Satu Percakapan sahabat nabi dengan seseorang yang dipercaya sebagai dajjal adalah sebagai berikut.
  "Dajjal Berkata Beritakanlah kepada saya tentang pohon-pohon korma yang ada didaerah Baisan?" Kami berkata,"Apa yang ingin kamu ketahui tentangnya?" Ia berkata,"Saya menanyakan pakah pohon-pohon korma itu berbuah?’ Kami menjawab,’Ya.’ Ia berkata,’Adapun pohon-pohon korma itu maka ia (sebentar lagi) hampir saja tidak akan berbuah lagi."
Yang perlu Anda ketahui, saat ini Baisan sering menjadi sasaran serangan tentara Israel, sehingga menyebabkan banyak kebun kurma di Baisan Hancur.
Sebagian besar pohon kurma mati, dan yang lain terganggu pertumbuhannya akibat hama sehingga buah kurma yang dihasilkan menjadi sedikit.

4. Terjadi Kelaparan Panjang

Bisa dipastikan apa yang terjadi setelah kekeringan. Pastinya, manusia akan mengalami kelaparan hebat. Pasalnya, tanpa air, tumbuhan dan ternak tidak dapat bertahan hidup. Apalagi, sudah dijelaskan dalam hadist di atas bahwa Allah memerintahkan bumi untuk menahan tumbuh-tumbuhan untuk tumbuh di atasnya.



“Sesungguhnya tiga tahun sebelum kemunculan Ad-Dajjal, di tahun pertama, langit menahan sepertiga air hujannya, bumi menahan sepertiga hasil tumbuhannya, dan di tahun kedua, langit menahan dua pertiga air hujannya, dan bumi juga menahan dua pertiga hasil tanamannya. Dan di tahun ketiga langit menahan seluruh yang ada padanya dan begitu pula bumi, sehingga binasalah setiap yang memiliki gigi pemamah dan kuku.” (“Kisah Dajjal”- Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani; Pustaka Imam Asy-Syafi’i; hlm. 92).

Makna dari binasalah setiap yang memiliki gigi pemamah dan berkuku adalah hewan yang dapat memberi protein bagi manusia. Hewan-hewan seperti kambing, domba, sapi kerbau dan Unta akan binasa karena mereka juga tidak memiliki makanan untuk bertahan hidup.

Bagaimana dengan makanan kaum mukmin? Allah SWT akan mencukupkan perut mereka dengan makanan layaknya makanan penghuni langit (Malaikat). Nabi Muhammad SAW bersabda yang artinya

“Akan tetapi mereka membaca tasbih dan mensucikan Allah, dan itulah makanan dan minuman kaum beriman saat itu, tasbih dan taqdis.” (HR. Abdul Razzaq, ath-Thayalisi, Ahmad, Ibnu Asakir).
Semoga informasi ini menjadi pegetahuan baru bagi Sahabatsetia.....

dipostkan oleh: goresangusti.blogspot.com

SIRRAH SAHABAT

Kisah Sahabat Rasulullah Shollallahu 'alyhi wasallam

oleh : K.H. Buya Yahya

Mendengar Kisah Pilu Kerinduan Bilal Kepada Rasulullah SAW

 

Inilah Profil atau Biografi Buya Yahya Zainul Maarif al-Bahjah Cirebon

Biografi Buya Yahya ini kami awali dulu dengan kedatangan beliau ke Cirebon pada akhir tahun 2005. Berawal dari tugas yang diampu dari syaikh sekaligus rektor beliau di Universitas al-Ahgoff, Yaman, beliau kemudian menjalani tugas dari sang guru untuk mengelola sekaligus memimpin pesantren persiapan (ma’had i’dad) mahasiswa sebelum menjalani rihlah ilmu ke Universitas al-Ahgoff, Yaman.
Ketika menjalani tugas mengajar di Cirebon, beliau bersama teman-teman seperjuangan menyewa tempat di pondok pesantren Nuurusshidiq, Tuparev. Di tempat tersebut, beliau hidup bersama Ustadz Budi Abdullathif, Habib Hasan al-Jufri, Ustadz Fathurrohman dan Ustadz Abdul Aziz Muslim. Perlu diketahui oleh para pembaca sekalian, pada tahun 2005 sampai pertengahan 2006, Buya Yahya yang masih muda belum mendapat izin dari syaikh nya untuk terjun berda’wah ke masyarakat.

Awal Berda’wah di Cirebon dari Musholla ke Musholla

Selepas mendapatkan izin, pada tahun 2006, beliau mengawali nya dengan penuh rasa sabar dan tawakkal pada Alloh ta’ala. Dimulai dari musholla kecil, dan walhamdulillah diberikan kemudahan oleh Alloh ta’ala untuk menjadi pengisi berbagai majlis ilmu di berbagai masjid jami’ di Cirebon, bahkan.. Masjid at-Taqwa alun-alun Cirebon pun tak luput dari kehadiran nya. Saat ini di masjid at-Taqwa alun-alun senantiasa disesaki oleh para mustami’ dan thullabul ‘ilmi ketika malam Senin dan Selasa, hal tersebut tidak lain dan tidak bukan, hanya demi hadir di roudhotul jannah (taman surga) atau majlis ilmu yang diampu oleh Buya Yahya Zainul Ma’arif. Beliau meyakini, hal tersebut tidak akan terjalani dengan sempurna tanpa izin dari Alloh ta’alaa. Lantas, sikap ta’zhim (hormat) beliau kepada para masyaikh nya di Yaman ketika menimba ilmu, termasuk Habib Abdulloh Baharun, kini menampakan hasilnya atas izin Alloh ta’ala yang diperlihatkan Alloh melalui sikap ta’zhim para thullab dan mustami’ kepada Buya.

Rihlah Ilmu Buya Yahya Dari Tsanawiyah Hingga Kuliyyah

Sebelum beliau melanjutkan studi ke Yaman, diawali dahulu dari Madrasah Diniyah yang diasuh oleh seorang kiai yang sholih, ya’ni KH. Imron Mahbub dan juga beliau bersekolah di Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang juga masih di kota Blitar.

Buya Yahya yang masih “hijau” keilmuan nya kala itu, memutuskan untuk melanjutkan pendidikan agama islam di Pondok Pesantren (PP) Daarul Lughoh Wad Da’wah – Bangil, Pasuruan Jawa Timur, yang diasuh oleh al-Murobbi al-Habib Hasan bin Ahmad Baharun, tepatnya pada tahun 1988 sampai 1993. Keberhasilan beliau dalam menghafal berbagai matan ilmu dan pengamalan nya membuat Buya dipercaya dan diberikan tugas mengabdi untuk memberikan pelajaran kepada santri di PP Daarul Lughoh Wad Da’wah – Bangil. Sang guru tak tinggal diam, al-Habib Hasan diam-diam mengamati kinerja Buya Yahya yang mulai matang keilmuan nya, atas perintah beliau pula lah Buya Yahya melanjutkan langkah rihlah ilmu nya ke Universitas al-Ahgoff Yaman, dari tahun 1996 sampai 2005.

Buya Yahya Kuliyyah di Negeri Yaman

Walhamdulilah wa syukrulillah, Buya Yahya talaqqi ilmu fiqh kepada Mufti Hadromaut, ya’ni Syaikh Fadhol Bafadhol. Selain kepada Syaikh Fadhol, Buya Yahya juga menimba ilmu kepada Syaikh Muhammad al-Khotib, Syaikh Muhammad Baudhon, dan Habib Ali Masyur bin Hafidz.
Menarik juga untuk dibahas pada artikel biografi buya yahya kali ini, selain belajar ilmu fiqh, beliau juga menyempatkan waktu dan memberikan tenaganya demi mempelajari ulumul hadits kepada DR. Ismail Kadhim al-Aisawi, Habib Salim asy-Syathri, dan Sayyid Ahmad bin Husin as-Seggaf.
Semangat beliau di masa muda patut dicontoh para santri masa kini yang ingin sukses berda’wah di jalan Alloh ta’ala. Di sela kesibukan beliau menjalani kuliyyah di Universitas, beliau juga menyempatkan waktu untuk menambah khazanah keilmuan di Rubath (Pondok Pesantren) Tarim sebanyak 4 kali seminggu.

Buya Yahya Mengajar di Yaman

Kematangan Buya Yahya mulai tampak. Walhamdulillah, beliau pernah mengajar di Dirosah Islamiyyah al-Ahgoff dan di Fakultas Tarbiyah Universitas al-Ahgoff, Yaman. Kini, beliau dikenali sebagai salah satu ulama muda ASWAJA yang mengasuh berbagai majlis ta’lim, dan juga Pondok Pesantren (Ma’had) al-Bahjah, Cirebon, Jawa Barat.

Buya Yahya Mulai Di Izinkan Berdakwah di Cirebon

Ketika masa tugas dan belajar di Yaman telah diselesaikan dengan baik, pada pertengahan tahun 2006, beliau kembali lagi ke Cirebon. Walhamdulillah, karena sudah dinilai mumpuni, beliau di izinkan untuk berdakwah.

Buya Yahya Mulai Dikenali Cirebon dan Sekitarnya

Tak cuma Cirebon saja yang menerima kehadiran sejuknya berbagai nasihat dan ilmu agama beliau. Ternyata Majalengka dan juga Kuningan menyambut baik kehadiran beliau. Termasuk LP Kesambi, Cirebon dan Matahari Dept. Store, Grage. Kini, nama beliau semakin membumi, terlebih setelah berhasil membangun majlis sekaligus ma’had al-Bahjah di Cirebon.

Semoga para pembaca sekalian dapat mendapat ibroh wal manfaat dari artikel kita kali ini.  , doakan kami istiqomah memberikan artikel-artikel islam yang menarik. 

Wassalaamu ‘alaikum warohmatullohi wa barokaatuh.

  

 

Habib Ali Zaenal Abidin Al Hamid :

video 

Fitnah Dajjal [Fitnah Akhir Zaman #bag 1]

Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokaatuh
Sahabatsetia Gusti, siapa yang tidak mengenal Beliau ( Ali Zaenal Abidin Bin Abu Bakar bin Salim bin Hadi bin Salim Al Hamid bin Sheikh Abu Bakar) - nama lengkapnya-red]



1974 – 1992

Beliau dilahirkan pada hari Jumaat, 12 April 1974, (.. 2 tahun setingkat dari admin sobb..hehehehe..) Selepas solat Jumaat di Bondowoso, Jawa Timur, Indonesia. Beliau anak ke-2 dari 6 adik-beradik (4 lelaki dan 2 perempuan). Beliau daripada keluarga sederhana yang hidup di sebuah perkampungan yang didiami oleh ramai para ulama’ dan terdapat juga beberapa buah pondok pesantren di situ.
Sewaktu membesar, beliau berguru dengan:
  1. Ustadz Hasan Baharom
  2. Ustadz Soleh Bal As’ad
  3. Ustadz Abdul Hamid
  4. Ustadz Soleh Bin Agil
  5. Ustadz Ahmad Barakwan
  6. Ustadz Husin Bin Abu Bakar
dan ramai lagi para asatizah. Beliau berguru dengan kesemuanya berbagai-bagai kitab dalam bidang agama

1993 – 1995

Pada usia beliau 21 tahun, dengan restu Ayahanda, Al Habib Abu Bakar bin Salim Al Hamid, dan Bonda, beliau pergi ke Hadhramaut, Yemen untuk meneruskan pengajian. Di Hadhramaut, beliau berguru dengan:
  1. Al Habib Umar bin Hafidz (pemimpin Dar Al Mustafa)
  2. Al Habib Ali Masyhur
  3. Al Habib Salim As Syatiri
  4. Al Habib Hasan As Syatiri
  5. Al Habib Abdullah Bin Syihab
  6. Al Habib Abdul Qadir Jailani Al Masyhur
  7. Al Habib Abdullah bin Syeikh Al Idrus
  8. Syeikh Fadal Ba Fadal
  9. Al Habib Musa Al Kazim As Saqqaf
  10. Syeikh Umar Husain Al Khatib
  11. Syeikh Umar Abu Bakar Al Khatib
  12. Al Habib Ali Abdul Rahman Al Jufri
  13. Habib Umar Bin Hafidz (kanan) bersama Habib Ali Zaenal Abidin Al Hamid
Beliau juga adalah antara anak murid Al Habib Umar bin Hafidz yang pertama di Dar Al Mustafa. Bakat semulajadi beliau sebagai seorang pendakwah mula diasah oleh Al Habib Umar bin Hafidz.

Selepas pengajian beliau di Hadhramaut, Yemen, beliau pergi ke Mesir pula. Selama 5 tahun di Universiti Al Azhar, beliau terus berguru mendalami ilmu-ilmu agama dengan:
1. Dr. Abdul Badi’ Abu Hashim
2. Dr. Saad Jawish
3. Dr. Ali Jum’ah
4. Dr. Muhammad Jibril
Di sini juga beliau, seiring dengan belajar, telah terus mengasah kemahiran berdakwah beliau dengan mengajar dan mendidik pelajar-pelajar dari pelbagai kaum dan bangsa.

2002- Sekarang

Setelah menerima ijazah (degree) dalam jurusan ‘Islamic Legislation and Law’ dari Universiti Al Azhar, beliau meneruskan kembara ilmunya di Universiti Islam Antarabangsa (UIA), Malaysia, dalam jurusan Al Quran dan Sunnah.
Dalam tahun 2004, beliau bernikah dan sejak itu, beliau serta isteri telah dianugerahkan dengan 3 orang puteri.
Alhamdulillah, beliau telah selesai kuliahnya di peringkat Sarjana (Masters).

Dalam tahun 2004, Al Habib Abdul Qadir Al Jufri, pengasas Darul Murtadza berpindah ke Kota Tinggi, Johor. Oleh kerana itu, Al Habib Abdul Qadir Al Jufri telah memohon Al Habib Ali Zaenal Abidin Al Hamid untuk mengambil alih. sebagai pengasuh dan pembimbing

Majlis Ta’lim Darul Murtadza

 

 Tonton juga

Fitnah Dajjal [Fitnah Akhir Zaman #bag 2]



Dipostkan oleh:
dwarnarupa.blogspot.com


Sejarah Hidup Nabi Muhammad 1 - Ustadz Abdul Somad Lc .Ma



Masjid Nurul Islam Jl. Kakap IV Harapan Raya (27.12.2016) Dipersembahkan untuk ummat oleh Tafaqquh Study Club, Pekanbaru - Riau. Follow kami di Twitter: @tafaqquhonline (http://www.twitter.com/tafaqquhonline), Instagram: @tafaqquhonline

Facebook: Redaksi Tafaqquh (http://www.facebook.com/redaksitafaqquh)

Buku-buku dan CD Kajian Ilmiah Islam bersama Ustadz Abdul Somad, Lc. MA dan Ustadz Dr. Musthafa Umar, Lc. MA bisa didapatkan di Toko Buku Tafaqquh, jalan Jend. Sudirman Komplek Sudirman Raya Blok D5 (depan hotel Ratu Mayang Garden) Pekanbaru, Riau.

Belanja online buku kami di http://www.tbtafaqquh.com atau Bukalapak http://www.bukalapak.com/tbtafaqquh - Keuntungan dari penjualan buku akan digunakan kembali untuk biaya operasional dakwah, termasuk pembuatan konten dakwah yang kami upload di Youtube. Insya Allah menjadi amal jariyah untuk para pembeli jika diniatkan ikhlas karena Allah.





--- *** ---

Ustadz Abdul Somad
Musthafa Umar
Tafaqquh
Pekanbaru

Minggu, 03 Desember 2017

KISAH AKHIR ZAMANl #bag.2

EPISODE 2 AKHIR ZAMAN

Hadits Kisah Tamim Ad-dari bertemu dengan Dajjal

 السلام  عليكم ورحمة الله و بركا ته 

Sahabatsetia Gusti..

Setelah beberapa waktu pada postingan sebelumnya kita membahas tentang doa dan amalan untuk diberi pertolongan  oleh Allah Ta'aalaa agar terhindar dari FITNAH DAJJAL maka pada episode akhir zaman ini saya akan mengetengahkan tentang Riwayat dan kisah seseorang yang hidup dimasa Rosullah telah berjumpa dengan sosok makhluk bernama Dajjal (La'naatullahi 'alayh). Kemudian ia menceritakannya kepada Nabi tentang perjalananya, dan tak lama iapun segera masuk Islam. siapakah dia?.. 
Dialah bernama Tamim Ad-Dari. r.a

Mari kita simak kisah ini dengan seksama...

 Kisah Tamim Ad-Dari Ra mengenai Dajjal.
Tamim Ad-Dari Shahabat Yang Pernah Berjumpa Dajjal

Namanya Tamim bin Aus bin Kharijah Ad-Dari, Abu Ruqayyah. Beliau salah seorang shahabat rasul yang mulia. Namanya tidak asing bagi kaum muslimin, masuk islam ketika Rasulullah di Madinah. Sepeninggal Khalifah Utsman bin Affan, Tamim meninggalkan kota Madinah dan menetap di Baitul Maqdis hingga meninggal di sana pada tahun 40 H.
Shahabat inilah yang pernah melihat Dajjal dengan kedua matanya. Shahabat ini pulalah yang pernah berbicara dan mendengar pembicaraan Dajjal dengan kedua telinganya. Sebelum islam, Tamim beragama nasrani. Saat dirinya nasrani itulah dia melihat Dajjal. Hingga kemudian Allah lapangkan dadanya untuk menerima islam dan ia beritakan kisahnya kepada Rasulullah saw.
Di Mana Tamim Ad-Dari melihat Dajjal? Bagaimana kisahnya ?



Tiba saatnya kita baca bersama sebuah riwayat shahih mengenai Dajjal dalam sebuah hadits yang dikenal dikalangan ulama dengan sebutan Hadits Jassasah. Hadits ini dikisahkan seorang shahabiyah, Fathimah binti Qois Ra.
‘Amir bin Syarohil Asy-Sya’bi berkata kepada Fathimah bintu Qais: “Kabarkan kepadaku sebuah hadits yang kau dengar dari Rasulullah SAW yang tidak kamu sandarkan kepada seorangpun selain beliau.”
Fathimah mengatakan: “Jika engkau kehendaki akan aku sampaikan.” “Iya berikan aku hadits itu.” jawab Asy Syabi.
Fatimahpun berkisah : “Suatu hari Aku mendengar seruan orang yang berseru. Penyeru Rasulullah saw menyeru: “Ashsholatu jamiah !”
Akupun segera keluar menuju masjid. Aku shalat bersama Rasulullah saw dan aku berada pada shaf wanita yang langsung berada di belakang shaf laki-laki. Tatkala Rasulullah selesai dari shalat, beliau duduk di mimbar dan tertawa seraya mengatakan:
لِيَلْزَمْ كُلُّ إِنْسَانٍ مُصَلَّاهُ
“Hendaknya masing-masing kalian tetap berada di tempat shalatnya !” Lalu beliau bersabda:
أَتَدْرُونَ لِمَ جَمَعْتُكُمْ
“Tahukah kalian, mengapa aku kumpulkan kalian ?”
Para Shahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui!”
Kemudian Rasulullah saw kembali bersabda dengan kisah yang cukup panjang, beliau berkata:

إِنِّي وَاللَّهِ مَا جَمَعْتُكُمْ لِرَغْبَةٍ وَلَا لِرَهْبَةٍ وَلَكِنْ جَمَعْتُكُمْ لِأَنَّ تَمِيمًا الدَّارِيَّ كَانَ رَجُلًا نَصْرَانِيًّا فَجَاءَ فَبَايَعَ وَأَسْلَمَ وَحَدَّثَنِي حَدِيثًا وَافَقَ الَّذِي كُنْتُ أُحَدِّثُكُمْ عَنْ مَسِيحِ الدَّجَّالِ حَدَّثَنِي أَنَّهُ رَكِبَ فِي سَفِينَةٍ بَحْرِيَّةٍ مَعَ ثَلَاثِينَ رَجُلًا مِنْ لَخْمٍ وَجُذَامَ فَلَعِبَ بِهِمْ الْمَوْجُ شَهْرًا فِي الْبَحْرِ ثُمَّ أَرْفَئُوا إِلَى جَزِيرَةٍ فِي الْبَحْرِ حَتَّى مَغْرِبِ الشَّمْسِ فَجَلَسُوا فِي أَقْرُبْ السَّفِينَةِ فَدَخَلُوا الْجَزِيرَةَ فَلَقِيَتْهُمْ دَابَّةٌ أَهْلَبُ كَثِيرُ الشَّعَرِ لَا يَدْرُونَ مَا قُبُلُهُ مِنْ دُبُرِهِ مِنْ كَثْرَةِ الشَّعَرِ فَقَالُوا وَيْلَكِ مَا أَنْتِ فَقَالَتْ أَنَا الْجَسَّاسَةُ قَالُوا وَمَا الْجَسَّاسَةُ قَالَتْ أَيُّهَا الْقَوْمُ انْطَلِقُوا إِلَى هَذَا الرَّجُلِ فِي الدَّيْرِ فَإِنَّهُ إِلَى خَبَرِكُمْ بِالْأَشْوَاقِ قَالَ لَمَّا سَمَّتْ لَنَا رَجُلًا فَرِقْنَا مِنْهَا أَنْ تَكُونَ شَيْطَانَةً قَالَ فَانْطَلَقْنَا سِرَاعًا حَتَّى دَخَلْنَا الدَّيْرَ فَإِذَا فِيهِ أَعْظَمُ إِنْسَانٍ رَأَيْنَاهُ قَطُّ خَلْقًا وَأَشَدُّهُ وِثَاقًا مَجْمُوعَةٌ يَدَاهُ إِلَى عُنُقِهِ مَا بَيْنَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى كَعْبَيْهِ بِالْحَدِيدِ قُلْنَا وَيْلَكَ مَا أَنْتَ قَالَ قَدْ قَدَرْتُمْ عَلَى خَبَرِي فَأَخْبِرُونِي مَا أَنْتُمْ قَالُوا نَحْنُ أُنَاسٌ مِنْ الْعَرَبِ رَكِبْنَا فِي سَفِينَةٍ بَحْرِيَّةٍ فَصَادَفْنَا الْبَحْرَ حِينَ اغْتَلَمَ فَلَعِبَ بِنَا الْمَوْجُ شَهْرًا ثُمَّ أَرْفَأْنَا إِلَى جَزِيرَتِكَ هَذِهِ فَجَلَسْنَا فِي أَقْرُبِهَا فَدَخَلْنَا الْجَزِيرَةَ فَلَقِيَتْنَا دَابَّةٌ أَهْلَبُ كَثِيرُ الشَّعَرِ لَا يُدْرَى مَا قُبُلُهُ مِنْ دُبُرِهِ مِنْ كَثْرَةِ الشَّعَرِ فَقُلْنَا وَيْلَكِ مَا أَنْتِ فَقَالَتْ أَنَا الْجَسَّاسَةُ قُلْنَا وَمَا الْجَسَّاسَةُ قَالَتْ اعْمِدُوا إِلَى هَذَا الرَّجُلِ فِي الدَّيْرِ فَإِنَّهُ إِلَى خَبَرِكُمْ بِالْأَشْوَاقِ فَأَقْبَلْنَا إِلَيْكَ سِرَاعًا وَفَزِعْنَا مِنْهَا وَلَمْ نَأْمَنْ أَنْ تَكُونَ شَيْطَانَةً فَقَالَ أَخْبِرُونِي عَنْ نَخْلِ بَيْسَانَ قُلْنَا عَنْ أَيِّ شَأْنِهَا تَسْتَخْبِرُ قَالَ أَسْأَلُكُمْ عَنْ نَخْلِهَا هَلْ يُثْمِرُ قُلْنَا لَهُ نَعَمْ قَالَ أَمَا إِنَّهُ يُوشِكُ أَنْ لَا تُثْمِرَ قَالَ أَخْبِرُونِي عَنْ بُحَيْرَةِ الطَّبَرِيَّةِ قُلْنَا عَنْ أَيِّ شَأْنِهَا تَسْتَخْبِرُ قَالَ هَلْ فِيهَا مَاءٌ قَالُوا هِيَ كَثِيرَةُ الْمَاءِ قَالَ أَمَا إِنَّ مَاءَهَا يُوشِكُ أَنْ يَذْهَبَ قَالَ أَخْبِرُونِي عَنْ عَيْنِ زُغَرَ قَالُوا عَنْ أَيِّ شَأْنِهَا تَسْتَخْبِرُ قَالَ هَلْ فِي الْعَيْنِ مَاءٌ وَهَلْ يَزْرَعُ أَهْلُهَا بِمَاءِ الْعَيْنِ قُلْنَا لَهُ نَعَمْ هِيَ كَثِيرَةُ الْمَاءِ وَأَهْلُهَا يَزْرَعُونَ مِنْ مَائِهَا قَالَ أَخْبِرُونِي عَنْ نَبِيِّ الْأُمِّيِّينَ مَا فَعَلَ قَالُوا قَدْ خَرَجَ مِنْ مَكَّةَ وَنَزَلَ يَثْرِبَ قَالَ أَقَاتَلَهُ الْعَرَبُ قُلْنَا نَعَمْ قَالَ كَيْفَ صَنَعَ بِهِمْ فَأَخْبَرْنَاهُ أَنَّهُ قَدْ ظَهَرَ عَلَى مَنْ يَلِيهِ مِنْ الْعَرَبِ وَأَطَاعُوهُ قَالَ لَهُمْ قَدْ كَانَ ذَلِكَ قُلْنَا نَعَمْ قَالَ أَمَا إِنَّ ذَاكَ خَيْرٌ لَهُمْ أَنْ يُطِيعُوهُ وَإِنِّي مُخْبِرُكُمْ عَنِّي إِنِّي أَنَا الْمَسِيحُ وَإِنِّي أُوشِكُ أَنْ يُؤْذَنَ لِي فِي الْخُرُوجِ فَأَخْرُجَ فَأَسِيرَ فِي الْأَرْضِ فَلَا أَدَعَ قَرْيَةً إِلَّا هَبَطْتُهَا فِي أَرْبَعِينَ لَيْلَةً غَيْرَ مَكَّةَ وَطَيْبَةَ فَهُمَا مُحَرَّمَتَانِ عَلَيَّ كِلْتَاهُمَا كُلَّمَا أَرَدْتُ أَنْ أَدْخُلَ وَاحِدَةً أَوْ وَاحِدًا مِنْهُمَا اسْتَقْبَلَنِي مَلَكٌ بِيَدِهِ السَّيْفُ صَلْتًا يَصُدُّنِي عَنْهَا وَإِنَّ عَلَى كُلِّ نَقْبٍ مِنْهَا مَلَائِكَةً يَحْرُسُونَهَا قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَطَعَنَ بِمِخْصَرَتِهِ فِي الْمِنْبَرِ هَذِهِ طَيْبَةُ هَذِهِ طَيْبَةُ هَذِهِ طَيْبَةُ يَعْنِي الْمَدِينَةَ أَلَا هَلْ كُنْتُ حَدَّثْتُكُمْ ذَلِكَ فَقَالَ النَّاسُ نَعَمْ فَإِنَّهُ أَعْجَبَنِي حَدِيثُ تَمِيمٍ أَنَّهُ وَافَقَ الَّذِي كُنْتُ 
أُحَدِّثُكُمْ عَنْهُ وَعَنْ الْمَدِينَةِ وَمَكَّةَ

“Sesungguhnya demi Allah, tidaklah aku kumpulkan kalian untuk sesuatu yang menggembirakan atau menakutkan kalian, namun aku kumpulkan kalian karena tamim Addari.”
“Dahulu ia seorang nasrani yang kemudian datang berbaiat (memberikan sumpah setia) dan masuk islam serta mengabariku sebuah kisah yang kisah itu sesuai dengan apa yang pernah aku kisahkan kepada kalian tentang Al-Masih Ad-Dajjal.”
Ia memberitakan bahwa ia naik kapal bersama 30 orang dari kabilah Lakhm dan Judzam. Ditengah perjalanan, mereka dipermainkan badai ombak hingga berada di tengah laut selama satu bulan sampai mereka terdampar di sebuah pulau di tengah lautan tersebut saat tenggelam matahari merekapun duduk di perahu-perahu kecil. Mereka pun memasuki pulau tersebut hingga menjumpai binatang yang berambut sangat lebat dan kaku hingga mereka tidak tahu mana kubul mana dubur karena demikian lebat bulunya.”
Merekapun berkata: “Celaka, kamu ini apa?
ia menjawab: “Aku adalah al-jassasah .”
Merka mengatakan: “Apakah al jasasah itu ?.
Ia berkata: “Wahai kaum pergilah klian kepada seorang lelaki yang ada dalam rumah ibadah itu sesungguhnya ia sangat merindukan berita kalian!”
Berkata Tamim: “Ketika dia menyebutkan untuk kami seorang laki-laki, kami menjadi khawatir kalau-kalau binatang itu ternyata setan. Kamipun bergerak menuju kepadanya dengan cepat sehingga kami masuk ke tempat ibadah itu.”
“Ternyata didalamnya ada orang yang paling besar yang pernah kami lihat, dan paling kuat ikatannya. Kedua tangannya terikat dengan leher, antara dua lutut dan dua mata kaki terikat dengan besi.”
Kami katakana kepadanya: “Celaka, kamu ini apa?”
Ia menjawab: “Kalian telah mampu mengetahui tentang aku, maka beritakan kepadaku siapa kalian ini
Rombongan Tamim menjawab: “Kami ini orang-orang Arab kami menaiki kapal ternyata kami bertepatan mendapati laut sedang bergelombang luar biasa sehingga kami dipermainkan ombak selama satu bulan sampai hingga terdampar di pulamu ini. Kamipun naik perahu-perahu kecil memasuki pula ini dan bertemu dengan binatang yang sangat lebat dan kaku rambutnya tidak diketahui mana kubul dan mana dubur karena lebat rambutnya.
Kamipun mengatakan: “Celaka kamu, kamu ini apa?”
Ia menjawab: Aku adalah jasasah.
Kamipun bertanya: Apa itu Jassasah, Ia malah berkata: Wahai kaum pergilah kalian kepada laki-laki yang ada dalam rumah ibadah itu sesungguhnya ia sangat merindukan berita kalian.”
Kami pun segera menuju kepadamu, kami khawatir kalau binatang itu ternyatra setan
Lalu orang itu mengatakan: “Kabarkan kepadaku tentang pohon-pohon korma di Baisan
Kami mengatakan: Tentang apa engkau meminta beritanya ?”
Dia berkata: “Aku bertanya kepada kalian tentang pohon korma apakah masih berbuah.”
Kami menjawab: iya
Ia mengatakan: “Sesungguhnya hampir hampir dia tidak akan mengeluarkann buahnya.”
“Kabarkan pula kepadaku tentang danau Thobariyah ?” tanya orang ini.
Kami menjawab: “Tentang apa engkau meminta beritanya?”
“Apakah masih ada airnya, jawabnya.
Mereka menjawab: Danau itu banyak airnya
Dia mengatakan: Sesungguhnya hampir-hampir air akan hilang.
Kabarkan kepadaku tentang mata air Zughor
Mereka mengatakan: Tentang apa kamu minta berita?
Apakah di mata air itu masih ada airnya? Dan apakah penduduk masih bertani dengan airnya? Jawab Dajjal
Kami menjawab: “Iya, mata air itu deras airnya dan penduduk bertani dengannya.”
Ia berkata: “Kabarkan kepadaku tentang nabi ummiyyin apa yang dia lakuakan ?”
Mereka menjawab: “Ia telah muncul dari Makkah dan tinggal di Yatsrib.”
Ia mengatakan: “Apakah orang-orang arab memeranginya?”
Kami menjawab: “Ya.”
Ia mengatakan lagi: “Apa yang ia lakukan terhadap orang-orang Arab.”
Maka kami beritakan bahwa ia telah menang atas orang-orang arab dan mereka taat kepadanya
Ia mengatakan: “Itu sudah terjadi?”
Kami katakan: “Ya.”
Ia mengatakan: “Sesungguhnya baik mereka untuk taat kepadanya.”
“Sekarang aku akan beritakan kepada kalian tentang aku: “Sesungguhnya aku adalah Al-Masih dan hampir-hampir aku diberi izin untuk keluar, hingga aku keluar lalu berjalan di bumi dan tidak kutinggalkan satu negeripun kecuali aku akan turun padanya dalam waktu 40 malam kecuali Mekah dan Thaybah, keduanya haram bagiku. Setiap kali aku akan masuk pada salah satu kota ini, malaikat menghadangku dengan pedang terhunus di tangan menghalangiku darinya dan sesungguhnya pada tiap celah ada para malaikat yang menjaganya.
Fatimah mengatakan: Maka Rasulullah saw bersabda dengan menusukkan tongkat di mimbar sambil mengatakan: “Inilah Thaiybah, Inilah Thaiybah, Inilah Thaiybah, yakni Kota Madinah.”
Apakah aku telah beritahukan kalian tentang hal itu ?
Orang-orang menjawab: Iya
Nabi berkata: Sesungguhnya cerita Tamim menakjubkanku, kisahnya sesuai dengan apa yang aku ceritakan kepada kalian tentang Dajjal serta tentang mekah dan madinah.
Kemudian beliau bersabda:
أَلَا إِنَّهُ فِي بَحْرِ الشَّأْمِ أَوْ بَحْرِ الْيَمَنِ لَا بَلْ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ مَا هُوَ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ مَا هُوَ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ مَا هُوَ وَأَوْمَأَ بِيَدِهِ إِلَى الْمَشْرِقِ
Ketahuilah bahwa ia berada di lautan Syam atau lautan Yaman,” Oh, tidak! Bahkan dari arah timur! Tidak Dia dari arah timur, Tidak Dia dari arah timur dan beliau mengisyaratkan dengantangan ke arah timur


Hadits lengkap tentang kisah Tamim Ad-dari

عن عَامِر بْن شَرَاحِيلَ الشَّعْبِيُّ شَعْبُ هَمْدَانَ أَنَّهُ سَأَلَ فَاطِمَةَ بِنْتَ قَيْسٍ أُخْتَ الضَّحَّاكِ بْنِ قَيْسٍ وَكَانَتْ مِنْ الْمُهَاجِرَاتِ الْأُوَلِ فَقَالَ حَدِّثِينِي حَدِيثًا سَمِعْتِيهِ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُسْنِدِيهِ إِلَى أَحَدٍ غَيْرِهِ فَقَالَتْ لَئِنْ شِئْتَ لَأَفْعَلَنَّ فَقَالَ لَهَا أَجَلْ حَدِّثِينِي فَقَالَتْ نَكَحْتُ ابْنَ الْمُغِيرَةِ وَهُوَ مِنْ خِيَارِ شَبَابِ قُرَيْشٍ يَوْمَئِذٍ فَأُصِيبَ فِي أَوَّلِ الْجِهَادِ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا تَأَيَّمْتُ خَطَبَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِي نَفَرٍ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَخَطَبَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى مَوْلَاهُ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ وَكُنْتُ قَدْ حُدِّثْتُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَحَبَّنِي فَلْيُحِبَّ أُسَامَةَ فَلَمَّا كَلَّمَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ أَمْرِي بِيَدِكَ فَأَنْكِحْنِي مَنْ شِئْتَ فَقَالَ انْتَقِلِي إِلَى أُمِّ شَرِيكٍ وَأُمُّ شَرِيكٍ امْرَأَةٌ غَنِيَّةٌ مِنْ الْأَنْصَارِ عَظِيمَةُ النَّفَقَةِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَنْزِلُ عَلَيْهَا الضِّيفَانُ فَقُلْتُ سَأَفْعَلُ فَقَالَ لَا تَفْعَلِي إِنَّ أُمَّ شَرِيكٍ امْرَأَةٌ كَثِيرَةُ الضِّيفَانِ فَإِنِّي أَكْرَهُ أَنْ يَسْقُطَ عَنْكِ خِمَارُكِ أَوْ يَنْكَشِفَ الثَّوْبُ عَنْ سَاقَيْكِ فَيَرَى الْقَوْمُ مِنْكِ بَعْضَ مَا تَكْرَهِينَ وَلَكِنْ انْتَقِلِي إِلَى ابْنِ عَمِّكِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو ابْنِ أُمِّ مَكْتُومٍ وَهُوَ رَجُلٌ مِنْ بَنِي فِهْرٍ فِهْرِ قُرَيْشٍ وَهُوَ مِنْ الْبَطْنِ الَّذِي هِيَ مِنْهُ فَانْتَقَلْتُ إِلَيْهِ فَلَمَّا انْقَضَتْ عِدَّتِي سَمِعْتُ نِدَاءَ الْمُنَادِي مُنَادِي رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُنَادِي الصَّلَاةَ جَامِعَةً فَخَرَجْتُ إِلَى الْمَسْجِدِ فَصَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكُنْتُ فِي صَفِّ النِّسَاءِ الَّتِي تَلِي ظُهُورَ الْقَوْمِ فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاتَهُ جَلَسَ عَلَى الْمِنْبَرِ وَهُوَ يَضْحَكُ فَقَالَ لِيَلْزَمْ كُلُّ إِنْسَانٍ مُصَلَّاهُ ثُمَّ قَالَ أَتَدْرُونَ لِمَ جَمَعْتُكُمْ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ إِنِّي وَاللَّهِ مَا جَمَعْتُكُمْ لِرَغْبَةٍ وَلَا لِرَهْبَةٍ وَلَكِنْ جَمَعْتُكُمْ لِأَنَّ تَمِيمًا الدَّارِيَّ كَانَ رَجُلًا نَصْرَانِيًّا فَجَاءَ فَبَايَعَ وَأَسْلَمَ وَحَدَّثَنِي حَدِيثًا وَافَقَ الَّذِي كُنْتُ أُحَدِّثُكُمْ عَنْ مَسِيحِ الدَّجَّالِ حَدَّثَنِي أَنَّهُ رَكِبَ فِي سَفِينَةٍ بَحْرِيَّةٍ مَعَ ثَلَاثِينَ رَجُلًا مِنْ لَخْمٍ وَجُذَامَ فَلَعِبَ بِهِمْ الْمَوْجُ شَهْرًا فِي الْبَحْرِ ثُمَّ أَرْفَئُوا إِلَى جَزِيرَةٍ فِي الْبَحْرِ حَتَّى مَغْرِبِ الشَّمْسِ فَجَلَسُوا فِي أَقْرُبْ السَّفِينَةِ فَدَخَلُوا الْجَزِيرَةَ فَلَقِيَتْهُمْ دَابَّةٌ أَهْلَبُ كَثِيرُ الشَّعَرِ لَا يَدْرُونَ مَا قُبُلُهُ مِنْ دُبُرِهِ مِنْ كَثْرَةِ الشَّعَرِ فَقَالُوا وَيْلَكِ مَا أَنْتِ فَقَالَتْ أَنَا الْجَسَّاسَةُ قَالُوا وَمَا الْجَسَّاسَةُ قَالَتْ أَيُّهَا الْقَوْمُ انْطَلِقُوا إِلَى هَذَا الرَّجُلِ فِي الدَّيْرِ فَإِنَّهُ إِلَى خَبَرِكُمْ بِالْأَشْوَاقِ قَالَ لَمَّا سَمَّتْ لَنَا رَجُلًا فَرِقْنَا مِنْهَا أَنْ تَكُونَ شَيْطَانَةً قَالَ فَانْطَلَقْنَا سِرَاعًا حَتَّى دَخَلْنَا الدَّيْرَ فَإِذَا فِيهِ أَعْظَمُ إِنْسَانٍ رَأَيْنَاهُ قَطُّ خَلْقًا وَأَشَدُّهُ وِثَاقًا مَجْمُوعَةٌ يَدَاهُ إِلَى عُنُقِهِ مَا بَيْنَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى كَعْبَيْهِ بِالْحَدِيدِ قُلْنَا وَيْلَكَ مَا أَنْتَ قَالَ قَدْ قَدَرْتُمْ عَلَى خَبَرِي فَأَخْبِرُونِي مَا أَنْتُمْ قَالُوا نَحْنُ أُنَاسٌ مِنْ الْعَرَبِ رَكِبْنَا فِي سَفِينَةٍ بَحْرِيَّةٍ فَصَادَفْنَا الْبَحْرَ حِينَ اغْتَلَمَ فَلَعِبَ بِنَا الْمَوْجُ شَهْرًا ثُمَّ أَرْفَأْنَا إِلَى جَزِيرَتِكَ هَذِهِ فَجَلَسْنَا فِي أَقْرُبِهَا فَدَخَلْنَا الْجَزِيرَةَ فَلَقِيَتْنَا دَابَّةٌ أَهْلَبُ كَثِيرُ الشَّعَرِ لَا يُدْرَى مَا قُبُلُهُ مِنْ دُبُرِهِ مِنْ كَثْرَةِ الشَّعَرِ فَقُلْنَا وَيْلَكِ مَا أَنْتِ فَقَالَتْ أَنَا الْجَسَّاسَةُ قُلْنَا وَمَا الْجَسَّاسَةُ قَالَتْ اعْمِدُوا إِلَى هَذَا الرَّجُلِ فِي الدَّيْرِ فَإِنَّهُ إِلَى خَبَرِكُمْ بِالْأَشْوَاقِ فَأَقْبَلْنَا إِلَيْكَ سِرَاعًا وَفَزِعْنَا مِنْهَا وَلَمْ نَأْمَنْ أَنْ تَكُونَ شَيْطَانَةً فَقَالَ أَخْبِرُونِي عَنْ نَخْلِ بَيْسَانَ قُلْنَا عَنْ أَيِّ شَأْنِهَا تَسْتَخْبِرُ قَالَ أَسْأَلُكُمْ عَنْ نَخْلِهَا هَلْ يُثْمِرُ قُلْنَا لَهُ نَعَمْ قَالَ أَمَا إِنَّهُ يُوشِكُ أَنْ لَا تُثْمِرَ قَالَ أَخْبِرُونِي عَنْ بُحَيْرَةِ الطَّبَرِيَّةِ قُلْنَا عَنْ أَيِّ شَأْنِهَا تَسْتَخْبِرُ قَالَ هَلْ فِيهَا مَاءٌ قَالُوا هِيَ كَثِيرَةُ الْمَاءِ قَالَ أَمَا إِنَّ مَاءَهَا يُوشِكُ أَنْ يَذْهَبَ قَالَ أَخْبِرُونِي عَنْ عَيْنِ زُغَرَ قَالُوا عَنْ أَيِّ شَأْنِهَا تَسْتَخْبِرُ قَالَ هَلْ فِي الْعَيْنِ مَاءٌ وَهَلْ يَزْرَعُ أَهْلُهَا بِمَاءِ الْعَيْنِ قُلْنَا لَهُ نَعَمْ هِيَ كَثِيرَةُ الْمَاءِ وَأَهْلُهَا يَزْرَعُونَ مِنْ مَائِهَا قَالَ أَخْبِرُونِي عَنْ نَبِيِّ الْأُمِّيِّينَ مَا فَعَلَ قَالُوا قَدْ خَرَجَ مِنْ مَكَّةَ وَنَزَلَ يَثْرِبَ قَالَ أَقَاتَلَهُ الْعَرَبُ قُلْنَا نَعَمْ قَالَ كَيْفَ صَنَعَ بِهِمْ فَأَخْبَرْنَاهُ أَنَّهُ قَدْ ظَهَرَ عَلَى مَنْ يَلِيهِ مِنْ الْعَرَبِ وَأَطَاعُوهُ قَالَ لَهُمْ قَدْ كَانَ ذَلِكَ قُلْنَا نَعَمْ قَالَ أَمَا إِنَّ ذَاكَ خَيْرٌ لَهُمْ أَنْ يُطِيعُوهُ وَإِنِّي مُخْبِرُكُمْ عَنِّي إِنِّي أَنَا الْمَسِيحُ وَإِنِّي أُوشِكُ أَنْ يُؤْذَنَ لِي فِي الْخُرُوجِ فَأَخْرُجَ فَأَسِيرَ فِي الْأَرْضِ فَلَا أَدَعَ قَرْيَةً إِلَّا هَبَطْتُهَا فِي أَرْبَعِينَ لَيْلَةً غَيْرَ مَكَّةَ وَطَيْبَةَ فَهُمَا مُحَرَّمَتَانِ عَلَيَّ كِلْتَاهُمَا كُلَّمَا أَرَدْتُ أَنْ أَدْخُلَ وَاحِدَةً أَوْ وَاحِدًا مِنْهُمَا اسْتَقْبَلَنِي مَلَكٌ بِيَدِهِ السَّيْفُ صَلْتًا يَصُدُّنِي عَنْهَا وَإِنَّ عَلَى كُلِّ نَقْبٍ مِنْهَا مَلَائِكَةً يَحْرُسُونَهَا قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَطَعَنَ بِمِخْصَرَتِهِ فِي الْمِنْبَرِ هَذِهِ طَيْبَةُ هَذِهِ طَيْبَةُ هَذِهِ طَيْبَةُ يَعْنِي الْمَدِينَةَ أَلَا هَلْ كُنْتُ حَدَّثْتُكُمْ ذَلِكَ فَقَالَ النَّاسُ نَعَمْ فَإِنَّهُ أَعْجَبَنِي حَدِيثُ تَمِيمٍ أَنَّهُ وَافَقَ الَّذِي كُنْتُ أُحَدِّثُكُمْ عَنْهُ وَعَنْ الْمَدِينَةِ وَمَكَّةَ أَلَا إِنَّهُ فِي بَحْرِ الشَّأْمِ أَوْ بَحْرِ الْيَمَنِ لَا بَلْ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ مَا هُوَ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ مَا هُوَ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ مَا هُوَ وَأَوْمَأَ بِيَدِهِ إِلَى الْمَشْرِقِ قَالَتْ فَحَفِظْتُ هَذَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  .
2063-
 Dari Amir bin Syarahil Asy-Sya'bi, suku Hamadan, bahwasanya ia pernah bertanya kepada Fatimah binti Qais, saudara perempuan Adh-Dahhak bin Qais RA yang termasuk kelompok pertama yang mengikuti hijrah. Amir berkata kepada Fatimah, "Ceritakanlah kepada saya sebuah hadits yang pernah kamu dengar dari Rasulullah SAW dan janganlah kamu sandarkan kepada orang lain selain beliau!" Fatimah menjawab, "Jika kamu menginginkannya, maka saya pun akan menceritakannya kepadamu." Lalu Amir berkata kepada Fatimah, "Tentu saja saya mau ya Fatimah. Oleh karena itu, sekarang ceritakanlah!" Akhirnya Fatimah mulai menceritakan kisahnya kepada Amir sebagai berikut, "Saya menikah dengan putera Al Mughirah, salah seorang pemuda Quraisy yang terpandang pada saat itu. Tetapi, tak lama kemudian ia tewas dalam suatu perang jihad yang pertama kali diikutinya bersama Rasulullah SAW. Setelah menjadi janda, Abdurrahman bin Auf, salah seorang sahabat Rasulullah, datang untuk melamar saya. Selain itu, Rasulullah SAW juga datang melamar saya untuk dinikahkan dengan pembantu beliau yang bernama Usamah bin Zaid RA. Saya pernah diberitahu bahwasanya Rasulullah SAW pernah bersabda, 'Barang siapa yang cinta kepadaku, maka hendaknya ia pun cinta kepada Usamah.' Ketika Rasulullah SAW datang melamar saya, saya pun menjawab, 'Terserah kepada engkau ya Rasulullah! Nikahkanlah saya dengan orang yang engkau kehendaki!' Kemudian Rasulullah SAW menganjurkan kepada saya dengan sabdanya, "Hai Fatimah, berpindahlah kamu ke rumah Ummu Syarik!" {Ummu Syarik adalah seorang wanita kaya raya yang berasal dari kaum Anshar dan banyak berinfak untuk Islam serta sering dikunjungi para tamu}. Saya menjawab, "Baiklah ya Rasulullah, saya akan melaksanakan perintahmu dengan sebaik-baiknya." Akan tetapi, tak berapa lama kemudian, Rasulullah SAW menyarankan kepada saya, "Hai Fatimah, sebaiknya kamu jangan berpindah ke rumah Ummu Syarik terlebih dahulu, karena pada saat ini banyak tamu yang sedang berkunjung ke rumahnya. Aku khawatir kerudungmu terlepas atau betismu terbuka, hingga orang-orang akan melihat sebagian auratmu. Oleh karena itu, sebaiknya kamu pindah terlebih dahulu ke rumah sepupu laki-lakimu {putera saudara laki-laki ayahmu yang bernama Abdullah bin Amr bin Ummu Maktum, seorang laki-laki dari Bani Fihr, rumpun Quraisy yang juga nenek moyang Fatimah binti Qais}." Akhirnya saya berpindah ke rumah sepupu saya, Abdullah bin Amr. Pada saat masa iddah saya berakhir, saya mendengar muadzin Rasulullah SAW berseru, "Ash-Shalaatu Jaami'ah, maka saya pun keluar ke masjid untuk berjama'ah bersama Rasulullah SAW. Ketika itu, saya berada pada shaf wanita di belakang jamaah laki-laki. Seusai shalat, Rasulullah SAW duduk di atas mimbar sambil tertawa. Setelah itu, Rasulullah SAW bersabda, "Masing-masing hendaklah tetap berada di tempat shalatnya." Kemudian beliau bertanya, "Tahukah kalian, mengapa kalian aku kumpulkan?" Para sahabat menjawab secara serentak, "Allah dan rasul-Nya yang lebih mengetahui." Selanjutnya Rasulullah bersabda, "Demi Allah, sebenarnya aku mengumpulkan kalian bukan lantaran untuk memberi kabar gembira atau kabar sedih. Aku mengumpulkan kalian karena Tamim Ad-Dari, seorang laki-laki yang semula beragama Kristen, datang untuk berbai'at dan masuk Islam. Ia telah menyampaikan sesuatu yang sesuai dengan apa yang telah saya sampaikan kepada kalian tentang Dajjal. Tamim Ad-Dari pernah berkata kepadaku, bahwasanya ia pernah naik perahu bersama tiga puluh orang laki-laki dari suku Lakhm dan Judzam. Selama sebulan penuh gelombang laut menghantam perahu mereka. Kemudian mereka menepi ke sebuah pulau di arah barat. Mereka duduk pada perahu bagian atas dan akhirnya berhasil memasuki pulau tersebut. Setelah itu mereka bertemu dengan suatu makhluk yang berbulu sangat lebat hingga mereka tidak dapat membedakan antara depan dan belakang, karena begitu banyaknya bulu yang tumbuh pada tubuhnya. "Siapakah kamu ini hai makhluk berbulu?" tanya mereka. Makhluk berbulu itu menjawab, "Aku adalah Al Jassasah." Mereka bertanya lagi, "Apakah Jassasah itu?" Makhluk itu berkata, "Hai sekalian manusia, pergilah kalian kepada seorang laki-laki di suatu biara, karena ia sangat mengharapkan berita dari kalian." Tamim Ad-Dari berkata, "Ketika makhluk Al Jassasah itu menyebutkan kepada kami tentang seorang laki-laki itu, maka kami langsung meninggalkannya, karena kami takut jangan-jangan ia adalah syetan." Tamim Ad-Dari sekali lagi berkata, "Kami segera pergi hingga akhirnya kami masuk ke dalam pulau tersebut. Tiba-tiba kami bertemu dengan seseorang yang sangat besar yang belum pernah kami melihat orang yang sebesar dan sekekar itu. Kedua tangan orang tersebut terbelenggu pada lehernya dan kedua kakinya dirantai dengan besi antara kedua lutut hingga kedua mata kakinya. Kemudian kami bertanya kepadanya, "Siapakah kamu ini ?" Orang itu menjawab, "Bukankah kalian telah memperoleh sedikit informasi tentang diriku, maka sekarang beritahukanlah kepadaku siapakah kalian sebenarnya?" Kami menjawab, "Kami adalah orang-orang yang berasal dari Arab. Kami berlayar mengarungi laut dengan menggunakan perahu. Kemudian kami terbawa ke tengah laut pada saat gelombang laut mulai membesar. Ombak besar telah mengombang-ambingkan perahu kami selama satu bulan penuh hingga akhirnya kami menepi di pulau ini. Lalu kami duduk di bagian atas perahu sehingga kami dapat memasuki pulau ini. Tak lama kemudian, kami bertemu dengan makhluk yang berbulu lebat hingga kami tidak dapat membedakan antara bagian depan dan bagian belakang tubuhnya. Lalu kami bertanya kepadanya, "Siapakah kamu ini?" Makhluk berbulu lebat itu menjawab, "Aku adalah Al Jassasah." Lalu kami bertanya lagi, "Siapakah Al Jassasah itu?" Makhluk itu menjawab, "Sekarang pergilah kalian kepada seorang laki-laki di sebuah biara, karena ia sangat mengharapkan berita dari kalian. Oleh karena itu, maka kami pun segera mendatangimu. Karena kami merasa khawatir kepada Al Jassasah, jangan-jangan ia adalah syetan yang berbulu lebat." Laki-laki di biara itu bertanya, "Hai rombongan pengendara perahu, beritahukanlah kepadaku tentang kebun kurma Baisan?" Kami bertanya, "Tentang hal apakah yang akan kamu tanyakan kepada kami?" Laki-laki itu menjawab, "Aku bertanya tentang pohon kurma kepada kalian, apakah ia telah berbuah?" Kami menjawab, "Ya. Pohon kurma itu telah berbuah.' Laki-laki itu berkata, "Pohon kurma tersebut sebentar lagi tidak akan berbuah." Laki-laki itu bertanya lagi, 'Beritahukanlah kepadaku tentang telaga Thabariyyah?" Kami balik bertanya, "Apakah yang akan kamu tanyakan kepada kami?" Laki-laki itu berkata, "Apakah telaga tersebut ada airnya?" Kami menjawab, "Air telaga tersebut sangat banyak." Laki-laki itu berkata, " Sebentar lagi air telaga itu akan habis." Laki-laki itu bertanya lagi, "Beritahukanlah kepadaku tentang mata air Zughar?" Seperti biasa, kami balik bertanya, "Mengenai apa yang akan kamu tanyakan?" Laki-laki itu bertanya lagi, "Apakah mata air tersebut masih ada airnya dan apakah orang-orang di sekitarnya bercocok tanam dengan airnya?" Kami menjawab, "Ya, air mata tersebut masih banyak dan masyarakat di sekitarnya bercocok tanam dengan airnya." Kemudian laki-laki itu bertanya lagi, "Beritahukanlah kepadaku tentang seorang nabi utusan Allah yang ummi, apa yang telah ia lakukan?" Kami menjawab, "Nabi tersebut telah keluar dari kota Makkah dan menetap di kota Yatsrib {Madinah}." Laki-laki itu bertanya lagi, "Apakah nabi itu dimusuhi oleh orang Arab?" Kami menjawab, "Ya, ia selalu dimusuhi orang Arab." Laki-laki itu terus bertanya, "Bagaimana upaya nabi tersebut dalam menghadapi mereka?" Kami menjawab, "Nabi itu telah berhasil dalam dakwahnya atas dukungan orang-orang Arab yang mengikuti dan mematuhinya.' Laki-laki itu bertanya, "Sudahkah nabi itu meraih kesuksesannya?' Kami menjawab, "Ya." Laki-laki itu berkata, "Sungguh lebih baik apabila orang Arab itu mematuhinya. Sekarang, baiklah aku akan memberitahukan kepada kalian tentang diriku! Sesungguhnya aku ini adalah Al Masih Dajjal dan sebentar lagi aku telah diizinkan untuk keluar. Setelah itu, aku akan menjelajahi dunia hingga tidak ada satu kampung pun yang tidak aku singgahi dalam jangka waktu empat puluh malam, kecuali kota Makkah dan Thaybah {Madinah}. Aku dihalangi untuk memasuki kedua kota tersebut. Setiap kali aku berupaya untuk memasuki salah satunya, maka seorang malaikat akan menghadangku yang siap sedia dengan pedang di tangannya. Sementara itu, di setiap penjuru kota Makkah dan Madinah ada beberapa malaikat yang menjaganya." Fatimah binti Qais berkata, "Rasulullah SAW pernah bersabda sambil menekan tongkatnya pada mimbar, 'ini adalah kota Thaybah. Ini adalah kota Thaybah. Ini adalah kota Thaybah {yaitu Madinah}. Bukankah aku telah memberitahukan hal ini kepadamu?' Para sahabat menjawab, "Ya, engkau telah memberitahukannya kepada kami." Kemudian Rasulullah berkata, 'Ucapan Tamim Ad-Dari sangat mengherankanku. Karena ucapannya itu sesuai dengan apa yang telah aku sampaikan kepada kalian mengenai kota Makkah dan Madinah. Sebenarnya, peristiwa yang diceritakannya itu terjadi di laut Syam atau laut Yaman dan bahkan berasal dari arah timur, dari arah timur, dari arah timur.' Beliau berkata seperti itu sambil menunjuk tangan beliau ke arah timur. Fatimah berkata, "Aku menghafal hadits ini dari Rasulullah SAW."
{Muslim 8/203-205} 



Hadits Jassasah diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahihnya Kitabul Fitan Wa Asyrotis Sa’ah. bab Qishoshul Jassasah (4/2261 no. 2942).
Demikian pembaca, kisah nabawi yang penuh ibroh mengisahkan perjalanan Tamim Ad-Dari yang menegangkan namun perjalanan itu menjadi salah satu sebab dia mendapatkan hidayah.

"Ya Allah.. Lindungilah kami dari adzab qubur.. dari neraka jahannam... Lindungi kami dari fitnah kehidupan dan kematian... Dan kami berlindung kepada-Mu dari Fitnah Masiihud-Dajjal.."..


 

 

Jumat, 01 Desember 2017

SIRRAH NABI #1

 

 

Detik-detik Akhir hayat Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam

 محمد رسول الله صلى عليه وسلم

 Asbab di racun ditinggikan derajat beliau kedalam Syahidah

السلام عليكم ورحمة الله و بركا ته 

Sahabatsetia Gusti.. 
Pada postingan kali ini saya akan mengetengahkan tentang Perjalanan sakit Rasulullah yang masih terasa hingga menjelang wafat.. Selamat membaca

Di kalangan para ulama Islam, telah terjadi pro dan kontra seputar penyebab wafatnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebagian pihak beranggapan bahwa Nabi wafat karena sakit panas-demam biasa, sedangkan pihak yang lain berkeyakinan bahwa Nabi wafat karena adanya pengaruh racun yang merasuk ke dalam tubuh beliau. Racun tersebut bersumber dari daging kambing beracun yang pernah beliau cicipi saat terjadinya perang Khaibar pada tahun 7 H. Daging kambing itu diberikan oleh seorang wanita Yahudi bernama Zainab binti Harits, istri Salam bin Misykam, salah seorang pembesar Yahudi.
Menurut para ulama pakar sirah Nabi, diketahui bahwa beliau memang pernah menyantap daging kambing beracun pemberian seorang wanita Yahudi Khaibar. Kemudian paha kambing tersebut berbicara, memberitahu Nabi bahwa ia telah ditaburi racun. Beliau tidak melanjutkan santapannya. Tatkala beliau sakit yang mengantarkannya kepada kematian, beliau bersabda, “Wahai Aisyah, aku masih merasakan sakit akibat makanan yang aku santap di Khaibar. Dan, inilah saatnya aku merasakan urat nadiku terputus karena racun tersebut.”[1] Untuk itu, tidak ada lagi ruang untuk keraguan atas pengaruh racun tersebut di jasad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, setelah hal itu nyata-nyata termaktub di dalam kitab shahih dan kitab-kitab yang lain.[2]

Perbedaan pendapat apapun yang jelas Kedudukan Rasulullah tidak mungkin lebih rendah dari para sahabat beliau yang telah mati syahid yang tetap hidup dan memperoleh rezeki dari Allah.[3]

Sedangkan, kalangan non muslim menjadikan isu wafatnya Nabi karena pengaruh racun tersebut sebagai sarana untuk ‘menggugat’ nubuwwat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :
seperti contoh argumen mereka adalah "Tolong sebutkan satu ayat saja di dalam Al-Quran yang menyebutkan kalau Muhammad masuk surga!”[4] 
Argumen diatas adalah salah satu bukti kalangan non islam beritikad mengacaukan sejarah dan kemuliaan Nabi  صلى عليه وسلم 

Redaksi Hadits
Adapun hadits pokok yang menjadi obyek pembahasan ini adalah sebagai berikut :
Hadits pertama :
وَقَالَ يُوْنُسُ عَنِ الزُّهْرِي قَالَ عُرْوَةُ قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا : كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ فِي مَرَضِهِ الَّذِي مَاتَ فِيْهِ : يَا عَائِشَةُ مَا أَزَالُ أَجِدُ أَلَمَ الطَّعَامِ الَّذِي أَكَلْتُ بِخَيْبَرَ فَهَذَا أَوَانُ وَجَدْتُ إِنْقِطَاعَ أَبْهَرِي مِنْ ذَلِكَ السَّمِّ
“Yunus berkata : Diriwayatkan dari Az-Zuhri, Urwah berkata : Aisyah x berkata, “Nabi n bersabda di kala sakit yang berakhir dengan wafatnya beliau, ‘Wahai Aisyah, aku masih merasakan sakit karena makanan yang pernah aku makan di perang Khaibar. Dan inilah saatnya bagiku merasakan terputusnya urat nadiku karena racun itu’.”[5]
Hadits kedua :
حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ اللهِ الْحَافِظُ أَخْبَرَنِى أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ يَحْيَى الأَشْقَرِ حَدَّثَنَا يُوسُفُ بْنُ مُوسَى الْمَرْوَرُّوذِىُّ حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ صَالِحٍ حَدَّثَنَا عَنْبَسَةُ حَدَّثَنَا يُونُسُ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ قَالَ عُرْوَةُ كَانَتْ عَائِشَةُ رَضِىَ اللهُ عَنْهَا تَقُوْلُ : كَانَ رَسُولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ فِى مَرَضِهِ الَّذِى تُوُفِّىَ فِيهِ يَا عَائِشَةُ إِنِّى أَجِدُ أَلَمَ الطَّعَامِ الَّذِى أَكَلْتُ بِخَيْبَرَ فَهَذَا أَوَانُ انْقِطَاعِ أَبْهَرِى مِنْ ذَلِكَ السُّمِّ.[6] أَخْرَجَهُ الْبُخَارِىُّ فِى الصَّحِيحِ فَقَالَ وَقَالَ يُونُسُ
“Telah menceritakan kepada kami Abu Abdillah Al-Hafizh, telah mengabarkan kepadaku Abu Bakr Muhammad bin Ahmad bin Yahya Al-Asyqar, telah menceritakan kepada kami Yusuf bin Musa Al-Marwarrudzi, telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Shalih, telah menceritakan kepada kami Anbasah, telah menceritakan kepada kami Yunus, dari Ibnu Syihab, ia berkata : Urwah mengatakan : Aisyah x berkata, “Nabi n bersabda di kala sakit yang berakhir dengan wafatnya beliau, ‘Wahai Aisyah, aku masih merasakan sakit karena makanan yang pernah aku makan di perang Khaibar. Dan inilah saatnya bagiku merasakan terputusnya urat nadiku karena racun itu’.” Dikeluarkan oleh Bukhari di dalam Shahihnya, ia mengatakan : Yunus berkata…[7]
Beberapa hadits pendukung yang menceritakan kronologi diracunnya Nabi antara lain sebagai berikut :
Hadits pertama :
حَدَّثَنَا سُرَيْجٌ حَدَّثَنَا عَبَّادٌ عَنْ هِلالٍ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ امْرَأَةً مِنَ الْيَهُودِ أَهْدَتْ لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَاةً مَسْمُومَةً فَأَرْسَلَ إِلَيْهَا فَقَالَ مَا حَمَلَكِ عَلَى مَا صَنَعْتِ قَالَتْ أَحْبَبْتُ أَوْ أَرَدْتُ إِنْ كُنْتَ نَبِيًّا فَإِنَّ اللَّهَ سَيُطْلِعُكَ عَلَيْهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ نَبِيًّا أُرِيحُ النَّاسَ مِنْكَ. قَالَ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا وَجَدَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا احْتَجَمَ قَالَ فَسَافَرَ مَرَّةً فَلَمَّا أَحْرَمَ وَجَدَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَاحْتَجَمَ
“Telah bercerita kepada kami Syuraih, telah bercerita kepada kami Abbad, dari Hilal, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas bahwa seorang wanita Yahudi menghadiahkan daging seekor kambing yang telah dibubuhi racun. Lantas, beliau mengutus seseorang agar menghadapkan wanita itu, beliau bertanya, “Apa alasanmu melakukan hal ini?” Ia menjawab, “Aku suka –atau aku ingin–, jika engkau benar seorang nabi, pasti Allah akan memberitahukan racun itu kepadamu. Namun jika engkau bukan seorang nabi, maka manusia tak akan lagi terganggu olehmu.” Ibnu Abbas menuturkan, “Apabila Rasulullah n merasakan sesuatu dari racun itu, beliau melakukan bekam. Suatu kali beliau sedang bepergian, ketika melakukan ihram beliau merasakan pengaruh racun tersebut, lantas beliau berbekam.”[8]

Hadits kedua :
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ عَبْدِ الْوَهَّابِ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ حَدَّثَنَا شُعْبَةٌ عَنْ هِشَامِ بْنِ زَيْدٍ عَنْ أَنَس بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : أَنَّ يَهُوْدِيَّةً أَتَتِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشَاةٍ مَسْمُوْمَةٍ فَأَكَلَ مِنْهَا فَجِيْءُ بِهَا فَقِيْلَ أَلاَ نَقْتُلُهَا؟ قَالَ : لاَ. فَمَا زِلْتُ أَعْرِفُهَا فِي لَهَوَاتِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abdul Wahab, telah menceritakan kepada kami Khalid bin Al-Harits, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Hisyam bin Zaid, dari Anas bin Malik a, bahwa seorang wanita Yahudi mendatangi Nabi n dengan membawa daging kambing beracun. Beliau telah memakan sebagiannya. Lantas wanita itu dihadapkan kepada Rasulullah n dan beliau menanyainya tentang alasan tindakannya tersebut. Dikatakan, “Tidakkah kita membunuhnya?” Beliau menjawab, “Tidak perlu.” Anas berkata, “Aku senantiasa mengetahui bekas racun tersebut di pangkal langit-langit mulut Rasulullah n.”[9]
Hadits ketiga :
أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ جَعْفَرَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلَ حَدَّثَنِي أَبِي حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيْمُ بْنُ خَالِدٍ حَدَّثَنَا رَبَاحٌ عَنْ مَعْمَرٍ عَنِ الزُّهْرِي عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ أُمِّ مُبَشِّرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : دَخَلْتُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي وَجَعِهِ الَّذِي قُبِضَ فِيْهِ فَقُلْتُ : بِأَبِي أَنْتَ يَا رَسُوْلَ اللهِ مَا تَتَّهِمُ بِنَفْسِكَ فَإِنِّي لاَ أَتَّهِمُ بِابْنِي إِلاَّ الطَّعَامَ الَّذِي أَكَلَهُ مَعَكَ بِخَيْبَرَ وَكَانَ ابْنُهَا بِشْرُ بِنُ الْبَرَّاءِ بْنِ مَعْرُوْرٍ مَاتَ قَبْلَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : وَأَنَا لاَ أَتَّهِمُ غَيْرَهَا هَذَا أَوَانُ انْقِطَاعِ أَبْهَرِي
“Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Ja’far, telah mennceritakan kepada kami Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Khalid, telah menceritakan kepada kami Rabah : Diriwayatkan dari Ma’mar, dari Az-Zuhri, dari Abdurrahman bin Abdullah bin Ka’b bin Malik, dari ayahnya, dari Ummu Mubasysyir, ia berkata, “Aku pernah menjenguk Rasulullah n saat beliau menderita sakit yang menyebabkan beliau wafat. Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah engkau mencurigai sesuatu yang menyebabkan dirimu sakit? Sesungguhnya aku tiada mencurigai penyebab putraku meninggal, selain makanan yang ia santap bersamamu di Khaibar.’ Putranya, Bisyr bin Barra’ bin Ma’rur telah meninggal sebelum Nabi n. Maka, Rasulullah n menjawab, ‘Aku tiada mencurigai selain ulah wanita Yahudi itu. Dan, inilah waktunya urat nadiku terputus’.”[10]
Pembahasan
Berbagai upaya pembunuhan terhadap Nabi Muhammad  صلى عليه وسلم telah banyak dilakukan oleh kaum Yahudi, bahkan sejak Nabi masih kecil. Di dalam kitab Ath-Thabaqat, Ibnu Sa’d meriwayatkan dengan sanad yang sampai kepada Ishaq bin Abdillah, bahwasanya ketika ibunda Nabi  صلى عليه وسلم hendak menyerahkan beliau kepada seorang perempuan Bani Sa’d (Halimah As-Sa’diyyah) yang akan menyusui beliau, ia berkata, “Jagalah putraku ini,” seraya ia menceritakan mimpinya. Suatu ketika Halimah melewati segolongan kaum Yahudi, lalu ia berkata, “Tidakkah kalian berkomentar tentang anakku ini?” Sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain, “Bunuh anak itu.” Mereka bertanya, “Apakah anak itu yatim?” “Tidak, ini ayahnya dan aku ibunya,” jawab Halimah. Mereka berkata, “Sekiranya ia anak yatim, pasti kami akan membunuhnya.” Halimah meneruskan perjalanannya seraya berkata, “Hampir-hampir saja aku merusak amanah yang diembankan kepadaku.” (Riwayat ini mursal, sedang para perawinya tsiqat).[11]

Sedangkan tragedi peracunan Nabi setelah penaklukan Khaibar oleh seorang wanita Yahudi[12] merupakan tragedi bersejarah yang mengantarkan Rasulullah n memperoleh syahid dalam hidupnya. Ibnu Katsir رحمه الله memastikan bahwa Nabi  صلى عليه وسلم wafat sebagai syahid. Ia menukil, “Kaum muslimin berpandangan bahwa Rasulullah  صلى عليه وسلم wafat sebagai syahid, selain kemuliaan yang Allah limpahkan kepada beliau berupa kenabian.”[13] Ibnu Mas’ud a berkata, “Sekiranya aku bersumpah sembilan kali untuk menyatakan bahwa Rasulullah  صلى عليه وسلم wafat karena terbunuh, itu lebih aku sukai daripada aku bersumpah sekali untuk menyatakan bahwa beliau tidak terbunuh. Yang demikian itu, karena Allah telah mengangkat beliau sebagai nabi sekaligus sebagai syahid.”[14]
Az-Zuhri berkata, bahwa Jabir mengatakan, “Pada hari itu Rasulullah  صلى عليه وسلم berbekam. Beliau dibekam seorang maula Bani Bayadhah dengan tanduk dan pisau. Pasca peristiwa tersebut, Rasulullah  صلى عليه وسلم hidup selama tiga tahun sampai jatuh sakit yang mengantarkan beliau wafat. Beliau bersabda, ‘Aku masih merasakan makanan yang aku makan dari kambing panggang saat perang Khaibar hingga sekarang. Inilah waktu terputusnya urat nadiku.’ Akhirnya, Rasulullah 
 صلى عليه وسلم wafat sebagai syahid.”[15]

Di dalam kitab Syarh al-Mawahib al-Laduniyah, Az-Zarqani berkata, “Salah satu mukjizat Nabi n adalah beliau tidak terpengaruh oleh racun seketika itu juga, sebab mereka (kaum Yahudi) berkata, ‘Jika dia seorang nabi, maka racun itu tidak akan membahayakan dirinya; tetapi jika ia hanya seorang raja, maka kami terbebas darinya.’ Tatkala racun itu tidak bereaksi dalam tubuh beliau, mereka menjadi yakin akan kenabian beliau. Sampai-sampai ada yang menyatakan bahwa perempuan Yahudi tersebut masuk Islam. Kemudian racun itu bereaksi di tubuh beliau setelah tiga tahun, guna memuliakan beliau dengan status syahid.”[16]
Dari paparan di atas menjadi jelaslah bahwa demam yang menyerang beliau menjelang wafat adalah reaksi dari racun yang tertelan di Khaibar. Selama hidup beliau racun itu tidak berpengaruh pada tubuh beliau, tidak bereaksi seketika itu juga –kecuali bekas yang ditinggalkan di langit-langit mulut dan rasa sakit yang acapkali datang kepada beliau–. Setelah kejadian itu, beliau masih sempat memimpin pasukan, ikut terjun pada beberapa pertempuran besar dan meraih kemenangan, melayani tantangan musuh, menerima tamu utusan, dan menjalani kehidupan normal seperti biasa. Hingga ajal yang telah ditetapkan datang menjemput beliau dengan cara yang alamiah. Allah membangkitkan kembali reaksi racun tersebut di tubuh Nabi صلى عليه وسلم, dan karena racun itu beliau wafat. Sebagaimana sabda beliau  صلى عليه وسلم di kala sakit yang mengantarnya kepada kematian, “Aku masih merasakan sakit akibat makanan yang aku makan di Khaibar,[17] dan sekaranglah saatnya terputusnya urat nadiku.”[18]
Sehingga, Allah menghimpun gelar kenabian (nubuwwah) dan kesyahidan (syahadah) sekaligus untuk Nabi-Nya, guna mengoptimalkan kehormatan, kemuliaan dan ketinggian derajat beliau di sisi Allah. Dan juga agar beliau menempati kedudukan para syuhada’, sekaligus kedudukan para nabi. Karena itu, Ibnu Mas’ud, Az-Zuhri dan yang lain berpendapat bahwa Rasulullah  صلى عليه وسلم wafat sebagai syahid akibat racun tersebut di atas.[19]
Jadi, keselamatan beliau dari racun yang mematikan bagi orang lain seketika itu juga, pemberitahuan Allah kepada beliau bahwa daging itu beracun dan laporan organ kambing itu kepada beliau, merupakan mukjizat Rasulullah  .[20] Begitu pula, sudah barang tentu tidak wafatnya Nabi  
 صلى عليه وسلم segera setelah menyantap daging kambing beracun tersebut menjadi salah satu mukjizat dan tanda kenabian yang semakin menambah kebenaran risalah beliau; bahwa beliau adalah benar-benar seorang rasul dari sisi Allah l. Hikmah Allah menghendaki, bahwa beliau wafat sesuai ajal yang telah Allah tetapkan, betapa pun beliau terpengaruh oleh racun yang ada di dalam daging kambing tersebut, sehingga beliau bertahan hidup sampai beberapa tahun sesudahnya.[21]

Kesimpulan
Setelah mengkaji secara mendalam hadits-hadits tentang kisah diracunnya Nabi, maka dapat diambil beberapa kesimpulan dan ibrah (pelajaran) sebagai berikut :
  1. Rasulullah  صلى عليه وسلم wafat dan berpulang ke haribaan Allah sebagai syahid. Sebab, Allah telah mengangkat beliau sebagai nabi sekaligus sebagai syahid.
  2. Permusuhan kaum Yahudi terhadap Islam berikut pemeluknya adalah fenomena sejak zaman dahulu kala. Mereka adalah musuh-musuh Allah dan para rasul-Nya.
  3. Nabi  صلى عليه وسلم tidak menaruh dendam, bahkan beliau justru memberi maaf dan bersikap toleran. Karenanya, beliau tidak menghukum wanita yang memberi kambing beracun tersebut. Akan tetapi, wanita itu dibunuh sebagai qishash atas meninggalnya Bisyr bin Barra’ akibat dari perbuatannya.
  4. Salah satu mukjizat Rasulullah  صلى عليه وسلم adalah daging kambing yang telah dipanggang itu bisa berbicara, dan memberitahu beliau bahwa ia telah ditaburi racun.
  5. Sudah menjadi karunia Allah atas para hamba-Nya bahwa Dia tidak mencabut nyawa Nabi-Nya kecuali setelah Dia menyempurnakan agama-Nya, sehingga beliau meninggalkan umatnya dalam keadaan terang-benderang, malamnya seperti siangnya, tidak ada yang tersesat kecuali orang yang binasa.[22]
  6. Dalam hadits ini mengandung isyarat akan kesempurnaan kesabaran dan ketabahan Rasulullah  صلى عليه وسلم. Beliau merasakan sakit dari waktu ke waktu akibat daging kambing panggang yang dibubuhi racun tersebut. Kondisi seperti ini berlangsung selama tiga tahun sejak pasca penaklukan Khaibar (7 H – 10 H). Setelah itu, beliau wafat.[23]

Maraji’
Fatawa Lajnah Da’imah lil Buhutsil ‘Ilmiyyah wal Ifta’.
Prof. Dr. M. Mutawalli Asy-Sya’rawi, Anda Bertanya Islam Menjawab, Gema Insani Press, Jakarta.
Shahih al-Bukhari, Al-Maktabah asy-Syamilah.
Abu Yusuf Muhammad Yazid, Munawarat al-Asyqiya’ li Qatli Khatam al-Anbiya’.
As-Sunan al-Baihaqi al-Kubra, Al-Maktabah asy-Syamilah.
Al-Hakim, Al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihain, Al-Maktabah asy-Syamilah.
Musnad Ahmad, Al-Maktabah asy-Syamilah.
Syaikh Shalih Al-Munajjid, Al-Islam Su’al wa Jawab, www.islam-qa.com.
Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qahthani, Wadda’ ar-Rasul li Ummatihi : Durus wa Washaya wa ‘Ibar wa ‘Izhat.
Syaikh Khalid bin Abdul Mun’im Ar-Rifa’i, Hal Matar Rasul bi Atsaris Samm.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Adh-Dhiya’ al-Lami’ min Khuthab al-Jawami’.
Khalid Abu Shalih, Qashimah azh-Zhuhri, Darul Wathan, Riyadh, 1422 H/2001.
Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri, Ar-Rahiq al-Makhtum.
Prof. Dr. Mahmud Hamdi Zaqzuq, Mata an-Nabiy n bis Samm.

[1] Shahih al-Bukhari, Bab Maradh an-Nabi n, juz IV, hlm. 1611, no. 4165. Al-Maktabah asy-Syamilah.
[2] Fatawa al-Lajnah ad-Da’imah, Bab Atsar as-Samm ‘alar Rasul n, juz 26, hlm. 37. Fatwa tersebut ditandatangani oleh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (Ketua), Abdul Aziz Alu Syaikh (Wakil Ketua), Abdullah bin Ghadyan (Anggota), Shalih Al-Fauzan (Anggota), Bakr Abu Zaid (Anggota). Al-Maktabah asy-Syamilah.
[3] Prof. Dr. M. Mutawalli Asy-Sya’rawi, Anda Bertanya Islam Menjawab, Gema Insani Press, Jakarta, hlm. 515.
[5] Yang dimaksud ath-tha’am dalam hadits di atas adalah asy-syat al-masmumah allati uhdiyat lahu (daging kambing beracun yang pernah dihadiahkan kepada beliau). Awanu artinya adalah waqt wa hina (waktu dan saat). Wajadtu artinya sya’artu (aku merasakan). Inqitha’u maksudnya qurba inqitha’ihi (hampir terputus). Abhari adalah urat nadi yang tersambung dengan jantung. Bila urat nadi seseorang terputus, maka ia akan meninggal. Shahih al-Bukhari, Bab Maradh an-Nabi n, juz IV, hlm. 1611, no. 4165. Al-Maktabah asy-Syamilah. Hakim dan Al-Isma’ili menyatakan sanadnya bersambung kepada Rasulullah n.
[6] Kata as-samm (racun) dengan fathah pada sin, dhammah atau mengkasrahkannya. Dibaca dengan tiga bahasa (as-samm, as-summ dan as-simm), namun yang paling fasih adalah dengan fathah (as-samm). Bentuk jamaknya samam dan sumum. Demikian dikatakan Al-Ashma’i. Lihat Abu Yusuf Muhammad Yazid, Munawarat al-Asyqiya’ li Qatli Khatam al-Anbiya’.
[7] As-Sunan al-Baihaqi al-Kubra, Bab Isti’mal Awani al-Musyrikin, juz X, hlm. 11, no. 20209. Al-Maktabah asy-Syamilah.
[8] Ahmad meriwayatkannya sendiri, dan sanadnya hasan. Musnad Ahmad, juz V, hlm. 6, no. 32784. Al-Maktabah asy-Syamilah.
[9] Dikeluarkan oleh Muslim di dalam As-Salam, Bab As-Samm, no. 2190. Juga, Shahih al-Bukhari, Bab Qubul al-Hadiyyah min al-Musyrikin, juz II, hlm. 923, no. 2474. Al-Maktabah asy-Syamilah. Sedang kata al-lahawat adalah bentuk jamak dari lahat, yakni daging merah yang menggantung di pangkal langit-langit mulut (ovula). Demikian dikatakan Al-Ashma’i. Dikatakan pula, ‘Daging yang ada di ujung langit-langit mulut.’ Ucapannya, ‘Aku senantiasa mengetahuinya,’ yakni tanda. Seolah-olah racun tersebut meninggalkan tanda dan bekas berwarna hitam atau lainnya. Ucapan para sahabat, ‘Tidakkah kita membunuhnya?’, di sebagian naskah dengan huruf nun (kita) dan di sebagian lain dengan ta’ khithab (Anda). Lihat Abu Yusuf Muhammad Yazid, Munawarat al-Asyqiya’ li Qatli Khatam al-Anbiya’.
[10] Hadits ini shahih berdasarkan syarat Syaikhani, namun keduanya tidak mengeluarkan hadits tersebut. Adz-Dzahabi berkata di dalam At-Talkhish, “Berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim.” Lihat Al-Hakim, Al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihain, Bab Dzikru Manaqib Bisyr bin Barra’ bin Ma’rur, juz III, hlm. 242, no. 4966. Al-Maktabah asy-Syamilah.
[11] Dinukil dari Al-Islam Su’al wa Jawab, Syaikh Shalih Al-Munajjid, www.islam-qa.com.
[12] Ada riwayat yang menyatakan bahwa wanita Yahudi yang menghadiahkan daging kambing beracun itu masuk Islam setelah ia bertanya, “Siapa yang memberitahumu?” Dan, ia mendapat jawaban dari Rasulullah n bahwa daging kambing beracun itulah yang memberitahu beliau. Rasulullah n memaafkannya terlebih dahulu, kemudian beliau membunuhnya sebagai qishash atas meninggalnya Bisyr bin Barra’. Al-Bidayah wan Nihayah, karya Ibnu Katsir, IV : 208-323. Dinukil dari kitab Wadda’ur Rasul li Ummatihi : Durus wa Washaya wa ‘Ibar wa ‘Izhat, karya Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qahthani.
[13] Lihat Al-Bidayah wan Nihayah, IV : 210, 211-212, dan V : 223-244. Dinukil dari kitab Wadda’ur Rasul li Ummatihi : Durus wa Washaya wa ‘Ibar wa ‘Izhat, karya Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qahthani.
[14] Disebutkan oleh Ibnu Katsir dan ia menisbatkan sanadnya kepada Baihaqi. Lihat Al-Bidayah wan Nihayah, V : 227. Dinukil dari ibid.
[15] Dikutip dari Abu Yusuf Muhammad Yazid, Munawarat al-Asyqiya’ li Qatli Khatam al-Anbiya’.
[16] Dikutip dari Hal Matar Rasul bi Atsaris Samm, fatwa Syaikh Khalid bin Abdul Mun’im Ar-Rifa’i, no. 2091.
[17] Nabi bersama sebagian sahabat menyantap daging kambing beracun tersebut. Tetapi, beliau hanya mengunyah daging itu, tidak sampai menelannya. Segera saja beliau memuntahkan daging itu kembali. Lihat Adh-Dhiya’ al-Lami’ min Khuthab al-Jawami’, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Saat itu, Bisyr bin Barra’ ikut makan bersama beliau. Dan, suapannya telah masuk ke tenggorokannya, dan akhirnya ia meninggal karenanya. Lihat Khalid Abu Shalih, Qashimatuzh Zhuhri, bab Wa Mata n Syahidan, Darul Wathan, Riyadh, 1422 H/2001, hal. 64-68.
[18] Ibid. Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri juga menulis dalam kitab Ar-Rahiq al-Makhtum, “Rasa sakit itu semakin bertambah dan menjadi-jadi. Sungguh terlihat pengaruh racun yang tertelan oleh beliau di Khaibar, sampai-sampai beliau bersabda, “Wahai Aisyah, aku masih merasakan sakit akibat makanan yang aku santap di Khaibar. Dan, inilah saatnya aku merasakan urat nadiku terputus karena racun itu.
[19] Ibid.
[20] Abu Yusuf Muhammad Yazid, Munawarat al-Asyqiya’ li Qatli Khatam al-Anbiya’.
[21] Mata an-Nabiy n bis Samm, karya Prof. Dr. Mahmud Hamdi Zaqzuq.
[22] Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qahthani, Wada’ ar-Rasul li Ummatihi : Durus wa Washaya wa ‘Ibar wa ‘Izhat.
[23] Khalid Abu Shalih, Qashimatuzh Zhuhri, hal. 68.

Sukai dan Share

JASA PENULISAN KALIGRAFI Penulisan kaligrafi masjid yang ditulis langsung pada dinding, dengan kombinasi khat tsulus, naskhi, riq’i, kufi...

BACA JUGA